Ahmad Syaihu

'Manulislah dengan hati, dan niatkan untuk ibadah, karena tulisan anda akan menjadi warisan peradaban bagi generasi yang akan datang' Guru di MTsN 4 kota Surab...

Selengkapnya

Kulonprogo Negeri Asing di Indonesia

Masih ada negeri Asing di Indonesia, itulah Kabupaten Kulonprogro, DIY, yang dalam membangun wilayahnya berbeda dengan kebijakan Pembangunan dari wilayah lain di Indonesia.

Bupati Kulonprogo, cara mengurus daerahnya sangat bertolak belakang dengan pimpinan di pusat yg mengutamakan impor._*

Apa yang terjadi di Kulonprogo saat ini?

Teladan dalam Senyap

(belajar nasionalisme ekonomi dari Kulonprogo)

Kulonprogo bukanlah daerah yang jadi sorotan media. Bukan kota besar seperti Bandung, Surabaya, apalagi Jakarta.

Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, pun tak sepopuler Kang Emil, Bu Risma apalagi Ahok.

Walau tanpa sorotan media, Hasto Wardoyo, telah meletakkan spirit kemandirian sebuah bangsa. Ia mengajak warganya keluar dari kemiskinan, dengan kekuatannya sendiri.

Hasto memberi teladan dalam senyapnya publikasi. Ia memulai dengan gerakan bela dan beli Kulonprogo.

Antara lain, dengan mengeluarkan kebijakan yang *_mewajibkan para pelajar dan PNS di sana mengenakan seragam batik geblek renteng, batik khas Kulonprogo, pada hari tertentu_*.

Ternyata, dengan jumlah 80.000 pelajar dan 8.000 PNS, kebijakan ini mampu mendongkrak industri batik lokal.

Sentra kerajinan batik tumbuh pesat, dari cuma 2 menjadi 50an. Seribuan perajin batik Kulonprogo yang biasanya bekerja di Yogyakarta, kini bisa bekerja di Kulonprogo.

Uang ratusan miliar rupiah dari usaha kecil inipun berputar di Kulonprogo.

Puryanto, seorang pengusaha batik di desa Ngentarejo, mengaku omzetnya meningkat bahkan pernah hingga mencapai 500 persen.

Hasto, yang menjabat Bupati sejak 2011, juga berusaha menjamin pendapatan petani lokal, dengan *_mewajibkan setiap PNS membeli beras produksi petani Kulonprogo, 10 kg/bulan_*.

Bahkan beras raskin yang dikelola Bulog setempat, kini menggunakan beras produksi petani Kulonprogo.

Sang *_Bupati yang juga dokter spesialis kandungan ini juga membuat PDAM mengembangkan usaha, dengan memprodusi Air kemasan merk AirKu_* (air Kulonprogo ).

Selain menyumbangkan PAD, *keberadaan air kemasan ini membangkitkan kebanggaan warga setempat dengan mengkonsumsi air produk sendiri*.

AirKu kini menguasai seperempat ceruk pasar air kemasan di Kulonprogo.

Anto, staf setempat, menuturkan, kini jumlah permintaan lebih besar dari produksi. Karena itu, volume produksi AirKu akan segera ditingkatkan.

Berbagai kebijakan lewat *Program Bela dan Beli, ternyata mampu menurunkan angka kemiskinan di Kulonprogo*.

Dari 22,54 % pada tahun 2013 menjadi 16,74 % pada tahun 2014 (data Bappeda).

Oh ya, jika Anda ke Kulonprogo, *Anda tak akan menemukan papan iklan rokok*. Pemerintah Kulonprogo memang menolak sponsor dari perusahaan rokok.

Kebijakan ini tentu mengurangi pendapatan daerah. Namun, memimpin daerah bukan cuma soal menggenjot pendapatan tapi menempatkan posisi moral yang memihak rakyat.

Dalam hal ini, membela hak kesehatan rakyat. Bupati yang lulusan UGM ini juga memberlakukan *Universal Coverage dalam pelayanan kesehatan, di mana Pemkab Kulonprogo menanggung biaya kesehatan warganya Rp 5 juta /orang*.

Untuk mengimbangi program Universal Coverage, RSUD Wates Kulonprogo memberlakukan layanan tanpa kelas.

Artinya, ketika kelas 3 penuh, pasien miskin bisa dirawat di kelas 2, kelas 1, bahkan VIP.

Sekali lagi, berbagai *kebijakan populis ini dijalankan tanpa banyak sorotan media.*

Dan satu lagi di Kulonprogo *Alfaxxxx dan Indoxxxx yang biasanya berdampingan bagai pasangan yang tak terpisahkan itu (di mana ada alfaxxxx, di situ ada indoxxxx) tidak diijinkan untuk membuka usahanya, kecuali mau bermitra dengan Koperasi dengan syarat dan ketentuan tertentu*.

Salah satunya kewajiban menampung produk UKM di dalam gerai tersebut dan mempekerjakan karyawan dari anggota koperasi.

Alfaxxxx dan Indoxxxx yang bekerja sama dengan koperasi, namanya bukan Alfaxxxx dan Indoxxxx lagi tapi diganti menjadi *TOMIRA (Toko Milik Rakyat)*.

Semoga bisa ditiru dan dilaksanakan pimpinan daerah lain.

*Jika Kabupaten Kulonprogo bisa mengapa Kabupaten, Kota lain nggak bisa?*

*_Ayoo maju bangsaku, rakyatku semuanya!_*

Sumber @ahmad taufik

Aula Kemenag Kota Surabaya, 10-06-2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

MasyaAllah, tulisan yang bagus, belum pernah disorot media daerah Kulon Progo ini, pemimpin yang benar benar memperhatikan dan mengayomi rakyatnya

11 Jun
Balas

istimewa....Jogja. Ayo kunjungi Pak!

10 Jun
Balas

Barokallah Pak Tanto, saya tiap tahun dua kali ke Yogya Pak

10 Jun

Pak Haji, Kulon Progo adalah kota istri saya. Sebulan 2 kali saya mengunjunginya. Memang luar biasa pak Hasto dalam memimpin. Namun di sisi lain, modernisasu kota ini tak selaju kota lain di DIY. Salam hangat.

10 Jun
Balas

Justru tak harus modern secara fisik, tapi secara mental dan ekonomi maju luar biasa dan memiliki ciri khas Indonesia, Barokallah Pak Agus

10 Jun

Dapat dijadikan sebagai contoh tauladan.Smoga Bupati Kulonprogo tetap semangat dlm memajukan masyarakatnya, begitu juga hendaknya dengan pemerintahan kita, harus memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, jgn hanya mementingkan kepentingan pribadi atau golongan.

10 Jun
Balas

Barokallah Ibu, tiap pemimpin harus menjadi tauladan dan punya karakter yang luar biasa, seperti halnya Bupati Kulonprogo,

10 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali