Ahmad Syaihu

'Manulislah dengan hati, dan niatkan untuk ibadah, karena tulisan anda akan menjadi warisan peradaban bagi generasi yang akan datang' Guru di MTsN 4 kota Surab...

Selengkapnya

Halal Bi Halal Tradisi Khas Indonesia

Selama ini Perayaan Idul fitri identik dengan kegiatan halal bi halal yang merupakan suatu kegiatan untuk mengumpulkan orang atau anggota komunitas, anggota keluarga, anggota dari suatu organsasi yang acara intinya adalah saling bermaaf-maafan yang dikemas dalam acara Halal Bi Halal.

Ternyata kegiatan Halal Bi Halal hanya ada di Indonesia dan punya sejarahnya sebagai berikut :

Penggagas istilah "halal bi halal" ini adalah KH Abdul Wahab Chasbullah. Ceritanya begini: Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun. <>

Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi.

Lalu Bung Karno menjawab, "Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain".

"Itu gampang", kata Kiai Wahab. "Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah 'halal bi halal'", jelas Kiai Wahab.

Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul 'Halal bi Halal' dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah Halal bi Halal sebagai kegaitan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang.

Kalau kegiatan halal bihalal sendiri, kegiatan ini dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana.

Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Kemudian budaya seperti ini ditiru oleh masyarakat luas termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah.akan tetapi itu baru kegiatannya bukan nama dari kegiatannya. kegiatan seperti dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah "Halal bi Halal", meskipun esensinya sudah ada.

Tapi istilah "halal bi halal" ini secara nyata dicetuskan oleh KH. Wahab Chasbullah dengan analisa pertama (thalabu halâl bi tharîqin halâl) adalah: mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan. Atau dengan analisis kedua (halâl "yujza'u" bi halâl) adalah: pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.

Demikian makna dan sejarah Kegiatan Halal Bi Halal yang ternyata memiliki tujuan mulia untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang diawali dengan salaing memaafkan.

Sudahkah kita saling memaafkan di momen Hari Raya Idul Fitri ini, saya Ahmad Syaihu bersama keluarga mengucapkan Taqobballahu minna waminkum, Minal Aidzin wal faizin,

Semoga Hari Raya ini kita semua memperoleh kemenangan berupa pribadi yang terlahir kembali dalam keadaan suci, Barokallah

* Disarikan dari berbagai sumber*

Rumahku, 4 Syawal 1440 H/ 8 Juni 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Itulah hebatnya para pendahulu kita selalu mendahulukan silaturahmi di atas yang lainnya. Semoga mampu menjadi contoh buat kita semua. Mohon maaf lahir batin pak Haji. Kalau ada rencana ke Borobudur, katuran mampir. Rumah saya 10 menit dari candi.

08 Jun
Balas

Itulah hebatnya pendahulu kita, dengan bersilaturrahmi dan bermaafan semua permasalahan bisa selesai, sekarang para pemimpin kita saling menang-menangan

08 Jun

terima kasih infonya Pak Haji . Barakallah sehat salalu

08 Jun
Balas

Barokallah Abah, indahnya silaturrahmi dan halal bi halal

08 Jun

Begitu dalamnya nakna halal bi halal yang sesungguhnya Semoga kita semua dapat mendapatkan manfaat halal bi halal dan menjadi manusia yang bermanfaat mohon maaf lahir & bathin

08 Jun
Balas

Barokallah Bu Sulfiana, ayo ceritakan kisah menarik tentang tradisi lebaran di tempat ibu, dan akan dijadikan buku Antologi Ke-4

08 Jun

InsyaAllah pak Akhmad Syaihu

08 Jun
Balas

Barokallah Ibu

08 Jun

Terimakasih kasih Pak Haji. Atas Info yang sarat makna ini.

09 Jun
Balas

Barokallah Bu , sudah selesai mudiknya? Ayo tantangan naskah Antologin ke 4 sudah menunggu

09 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali